Monday, May 23, 2011

Hantu Pocong

Sudah seminggu ini warga di desa Zellyel resah karena adanya gosip tentang pocong. Ya, seseorang yang bernama Matt telah menyebarkan berita tentang pocong itu hingga ke pelosok desa. Katanya dia sudah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

"Beneran Pak, Bu! Saya sudah melihat pocong itu sedang meloncat-loncat di kebun belakang rumahnya mas Cody." katanya menuturkan.

"Apa!" teriak seorang ibu-ibu gemuk yang ternyata adalah ibu si Cody itu sendiri.


‎"Jaman sekarang mah mana ada yang kayak gituan." timpal ketua RT di situ.

"Kalau tidak percaya, mari kita buktikan nanti malam. Jangan lupa, nanti malam kita berkumpul di sini untuk melihat pocong itu."

Benar saja perkataan Matt, pocong itu terlihat sedang melompat-lompat di kebun malam itu.

Semua warga pun panik, bahkan di antara mereka ada yang pingsan begitu saja tatkala melihat arwah penasaran itu. Sang pemilik kebun itu shock dan langsung dibawa ke Puskesmas terdekat.
Desa yang dulunya aman saja itu pun mulai dicekam dengan rasa ketakutan yang luar biasa. Para warga takut keluar malam-malam, membuat para pedagang pasar merugi, karena tak ada yang membeli jajanan mereka.

"Kita harus lakukan tindakan." ungkap Cody yang hendak tidur dengan Matt,"Ibuku koma, para warga pun tak bisa hidup tenang. Bagaimanapun caranya kita harus kasih pelajaran sama pocong itu!"

"Setuju." timpal Matt,"Kapan mau dimulai?"

"Secepatnya saja."
"Malam ini?" tanya Matt mulai mencukur jenggotnya di depan kaca.

"Jangan malam ini, kita belum menyiapkan apapun."

"Besok malam?"

"Besoknya lagi saja." jawab Cody sambil menarik selimutnya.

"Baiklah, tapi cuma kita berdua?"

"Kau ajak teman juga boleh."

"Bagaimana kalau kita ajak Desti?"

"Dia perempuan, Matt. Kasihan."

"Dia cukup pemberani! Buktinya dia pernah menang lomba panjat tebing." bela Matt sambil menyelesaikan kegiatannya.



‎"Oh, itu tak ada hubungannya, Matt. Kita berdua saja."

"Baiklah."

"Kalau sudah selesai kau matikan lampu itu!"

Malam yang dikatakan Cody pun datang. Dengan sebuah kitab mereka datang ke tempat tinggal pocong itu, di kebun belakang milik Cody dan menemukan pocongnya sedang memandangi mereka.

Pocong itu mendekat,"Kak Cody!" katanya lirih.

Sontak mereka berdua pun kaget setengah mati hingga tak mampu berkata-kata.

"Aku telah menunggumu Kak Cody, kemarilah!"
‎"Siapa kau?" tanya Cody heran karena pocong itu tahu namanya.

"Kau tak mengenalku, kakak?"

"Sebentar." Cody mengamati wajah pocong yang sudah hancur itu, hingga akhirnya mengangguk,"Kau tampak seperti, Sarah?"

"Ya, Kak. Ini Sarah."

"Siapa Sarah?" tanya Matt kemudian.

"Sarah? Sejak kapan kau jadi seperti ini? Kau tak mengabariku kalau kau sakit?" tanya Cody tak menghiraukan Matt.

"Aku bukan sakit, Kak. Aku bunuh diri." terang Sarah sambil melompat mendekati Cody.
‎"Kau bodoh Sarah. Kau telah melakukan tindakan seorang pengecut! Lantas kenapa arwahmu masih tertinggal?"

Aku menyuruh ibuku agar tak usah melepas talinya waktu aku dikubur."

"Bodoh!" gumam Cody.

"Persetan dengan Sarah!" teriak Matt dongkol,"Ngapain kamu berada di sini?"

"Aku mau pamitan sama Kak Cody." jawab Sarah pelan.

"Sarah." kata Cody.

"Ya?"

"Kenapa kamu melakukan hal ini?"

"Aku sudah kotor, Kak. Aku tak mau meneruskan hidup di dunia lagi. Aku tak tahan gunjingan tetangga."
"Kau bilang kau mau pamit padaku?"

"Ya, Kak."

"Sekarang ucapkan kata-katamu untuk berpamitan."

"Selamat tinggal, Kakak. Aku tak akan pernah melupakan Kakak dan aku mohon Kakak juga tak akan melupakanku."

"Ya, Kakak tak akan pernah melupakanmu."

"Kak, aku mau kakak mendekapku. Lalu aku mau Kakak yang melepaskan tali ini."

"Selamat tinggal, Sarah."

Seketika Sarah pun mulai menghilang dibarengi dengan suara angin yang berdesir merdu.


‎"Siapa Sarah, Cody?" tanya Matt ketika hendak melakukan rutinitas malamnya.

"Dia itu, orang yang aku temukan terkapar di pinggir jalan. Lalu aku ajak dia ke Puskesmas dan aku merawatnya sampai sembuh, sekitar seminggu lamanya."

Beberapa hari kemudian, rumor tentang pocong itu pun sirna, dan keadaan kembali seperti sedia kala.

~Selesai
Karangawen, 24 April 2011

Alisarda

No comments:

Post a Comment