3. Harta Karun dan Lubang Lele
Berbicara tentang Mekong, Anda pasti sudah tahu apa itu Mekong jika sudah membaca Mekong 1 dan 2. Di serial Mekong kali ini, saya akan menceritakan sebuah tempat yang memang ada sungai Mekongnya.Sebut saja Zellyel, sebuah desa yang ada di antara dua benua *plakk*, salah, dua desa.Di desa itulah tokoh utama kali ini lahir dan tinggal. Namanya Tole, dia termasuk anak yang pandai dalam hal mencuri.Setiap minggu, ada saja komplotan orang-orang yang datang ke rumahnya, untuk suatu hal yang biasa bagi Tole.
Dari balik jendela yang kusam itu pun, Tole dapat melihat komplotan itu datang dan segera masuk ke dalam kamarnya. Dengan tergesa-gesa dia memakai jaket serta topinya, tak lupa dia juga membawa kopor kecil di tangan kirinya. Setelah bercermin sesaat, dia segera keluar dan menemui komplotan yang berisi tiga orang itu.
"Kita sudah siap sekarang."
"Siap apanya? Bahkan kami pun belum mengatakan maksud kami."
"Tempat mana yang mau dibobol? Bank?"
Friday, February 11, 2011
Sota
Di sebuah Sekolah Menengah Pertama Harapan 3 terdapat seorang murid bernama Muriadi no kawarimin. Karena orangnya sotoy ( sok tahu ), orang–orang memanggilnya Sota.
“ Hai Sota? “ salam Siti kepada Sota yang sedang lewat di depan kelasnya.
“ Bagaimana cuaca hari ini? “ pertanyaan ini terucap dari mulut Siti kepada kuping Sota setiap pagi di sekolahan.
“ Pagi ini sih cerah – cerah aja, tapi nanti menjelang siang sepertinya akan turun hujan. “ jawab Sota asal–asalan.
“ Wah, harus sms mama nih, buat ngangkatin jemuran, memang jam berapa hujannya?"
“ Jam 10.10!” jawab Sota, sok mantap.
“ Wah harus buru–buru sms mama nih?!” kata Siti sambil mengeluarkan hp dari sakunya,"Makasih ya Sota!”
“ Iya iya, no problem!” Sota tersenyum riang dan berlari – lari kecil menuju kelasnya.
Setelah Sota tak terlihat, sepertinya biasanya Siti memasukkan kembali hpnya dan tertawa terbahak – bahak.
“ Pagi teman – teman!” salam Sota ketika masuk di kelasnya.
“ Hai Sota!” balas Sinta, apakah nanti ada jam bebas?” pertanyaan yang biasa.
“ Mungkin nanti di jam Matematika, soalnya guru – guru ada rapat mendadak!” jawab Sota.
“ Hai Sota? “ salam Siti kepada Sota yang sedang lewat di depan kelasnya.
“ Bagaimana cuaca hari ini? “ pertanyaan ini terucap dari mulut Siti kepada kuping Sota setiap pagi di sekolahan.
“ Pagi ini sih cerah – cerah aja, tapi nanti menjelang siang sepertinya akan turun hujan. “ jawab Sota asal–asalan.
“ Wah, harus sms mama nih, buat ngangkatin jemuran, memang jam berapa hujannya?"
“ Jam 10.10!” jawab Sota, sok mantap.
“ Wah harus buru–buru sms mama nih?!” kata Siti sambil mengeluarkan hp dari sakunya,"Makasih ya Sota!”
“ Iya iya, no problem!” Sota tersenyum riang dan berlari – lari kecil menuju kelasnya.
Setelah Sota tak terlihat, sepertinya biasanya Siti memasukkan kembali hpnya dan tertawa terbahak – bahak.
“ Pagi teman – teman!” salam Sota ketika masuk di kelasnya.
“ Hai Sota!” balas Sinta, apakah nanti ada jam bebas?” pertanyaan yang biasa.
“ Mungkin nanti di jam Matematika, soalnya guru – guru ada rapat mendadak!” jawab Sota.
Sungai Maut Misterius
Sungai Maut Musterius
"Adik jangan melewati jembatan yang ada di sungai itu." kata bapak-bapak yang mengenakan sarung dan peci."Memangnya kenapa, Pak?""Sekarang tanggal 18, sungai itu akan meminta tumbal.""Halah Pak! Jaman sekarang kok masih percaya sama kayak gituan. Udah gak jaman.""Terserah kalau adik tak percaya, tapi jangan salahkan saya kalau terjadi sesuatu.""Baiklah, lagian saya jago kok naik sepeda, gak bakalan jatuh ke sungai, dijamin.""Adik sebelum lewat bilang permisi dulu, ya!"
"Apa lagi, tuh! Jembatan aja dikasih salam! Ogah berat!" pemuda yang bernama Vick itu pun mulai menjejak pedalnya.
"Adik!"
"Iya, nanti salam bapak aku sampaikan ke penunggu sungai itu."
Bagai alap-alap, sepeda itu meluncur dengan cepatnya. Sesampainya di ujung jembatan, Vick berhenti sejenak dan menyunggingkan senyum mengejek.
"Kurang kerjaan aja, masak jembatan butut seperti ini harus dikasih salam. Makan nih salam!" Vick membuka mulutnya dan meludah tepat di atas jembatan kayu itu.
Ketika hendak menjalankan sepedanya, dia melihat sesosok perempuan yang berpakaian serba putih berjalan dari tengah jembatan.
"Kurang kerjaan aja tuh cewek dandan heboh kayak gitu." celetuk Vick mendekati wanita itu dengan sepedanya.
"Mau ke mana Neng? Kok dandan kayak gitu." tanya Vick coba-coba.
"Adik jangan melewati jembatan yang ada di sungai itu." kata bapak-bapak yang mengenakan sarung dan peci."Memangnya kenapa, Pak?""Sekarang tanggal 18, sungai itu akan meminta tumbal.""Halah Pak! Jaman sekarang kok masih percaya sama kayak gituan. Udah gak jaman.""Terserah kalau adik tak percaya, tapi jangan salahkan saya kalau terjadi sesuatu.""Baiklah, lagian saya jago kok naik sepeda, gak bakalan jatuh ke sungai, dijamin.""Adik sebelum lewat bilang permisi dulu, ya!"
"Apa lagi, tuh! Jembatan aja dikasih salam! Ogah berat!" pemuda yang bernama Vick itu pun mulai menjejak pedalnya.
"Adik!"
"Iya, nanti salam bapak aku sampaikan ke penunggu sungai itu."
Bagai alap-alap, sepeda itu meluncur dengan cepatnya. Sesampainya di ujung jembatan, Vick berhenti sejenak dan menyunggingkan senyum mengejek.
"Kurang kerjaan aja, masak jembatan butut seperti ini harus dikasih salam. Makan nih salam!" Vick membuka mulutnya dan meludah tepat di atas jembatan kayu itu.
Ketika hendak menjalankan sepedanya, dia melihat sesosok perempuan yang berpakaian serba putih berjalan dari tengah jembatan.
"Kurang kerjaan aja tuh cewek dandan heboh kayak gitu." celetuk Vick mendekati wanita itu dengan sepedanya.
"Mau ke mana Neng? Kok dandan kayak gitu." tanya Vick coba-coba.
Tuesday, February 8, 2011
Turn Back
Ada, tapi kadang
Sesuatu yang jarang
Dan selalu terkenang
Menghinggapi seseorang
Hingga merasa dirinya menang
Masa lalu,
Silam
Telah terjadi
Di antaranya tersaring
Terseleksi dan tereliminasi
Menjadi sebuah kumpulan
Memoar hidup
Fana
Yakinlah, bahwa
Kita berasal dari sana
Dan kembali ke sana
Mungkin kita dapat memikirkan
Masa depan
Tapi hanya
Penyesalan
Terhadap masa lalu
4 Feb 11
Sesuatu yang jarang
Dan selalu terkenang
Menghinggapi seseorang
Hingga merasa dirinya menang
Masa lalu,
Silam
Telah terjadi
Di antaranya tersaring
Terseleksi dan tereliminasi
Menjadi sebuah kumpulan
Memoar hidup
Fana
Yakinlah, bahwa
Kita berasal dari sana
Dan kembali ke sana
Mungkin kita dapat memikirkan
Masa depan
Tapi hanya
Penyesalan
Terhadap masa lalu
4 Feb 11
Mekong 2
2. WC Sialan
Berawal dari kebiasaan Tono yang tak tau malu untuk berak di pinggir sungai, kini teman-temannya ketularan dan ikut-ikutan. Tak hanya temannya, para tetangganya yang sudah dewasa pun juga iku-ikutan, mereka membuat semacam tempat persegi yang dipagari oleh seng ataupun kain. Di tengah dalam tempat itu ada sebatang kayu cukup besar yang digunakan untuk pijakan, dan di belakangnya tanpa ada sesuatu, melainkan langsung sungai. Bagai sebuah wc bertingkat.
Suatu hari, Tono tergesa-gesa menuju wcnya untuk mekong. Namun dia merasa kaget sekaligus jengkel ketika melihat wcnya hancur oleh angin ribut semalam. Dia pun menggerutu dan mulai berjalan ke wc-wc yang lain untuk membuang hasratnya.
Saat hendak masuk ke wc Toni, tiba-tiba dia tertahan oleh tulisan besar di pintu.
"DO NOT DISTURB!"
Spontan rasa jengkel Tono memuncak dan menendang pintu itu keras-keras, hingga membuatnya terbuka.
Berawal dari kebiasaan Tono yang tak tau malu untuk berak di pinggir sungai, kini teman-temannya ketularan dan ikut-ikutan. Tak hanya temannya, para tetangganya yang sudah dewasa pun juga iku-ikutan, mereka membuat semacam tempat persegi yang dipagari oleh seng ataupun kain. Di tengah dalam tempat itu ada sebatang kayu cukup besar yang digunakan untuk pijakan, dan di belakangnya tanpa ada sesuatu, melainkan langsung sungai. Bagai sebuah wc bertingkat.
Suatu hari, Tono tergesa-gesa menuju wcnya untuk mekong. Namun dia merasa kaget sekaligus jengkel ketika melihat wcnya hancur oleh angin ribut semalam. Dia pun menggerutu dan mulai berjalan ke wc-wc yang lain untuk membuang hasratnya.
Saat hendak masuk ke wc Toni, tiba-tiba dia tertahan oleh tulisan besar di pintu.
"DO NOT DISTURB!"
Spontan rasa jengkel Tono memuncak dan menendang pintu itu keras-keras, hingga membuatnya terbuka.
Iri
Kau begitu mempesona
teringat akan
hal yang tak bisa
tuk kulampaui
Membuat
serasa angin berdesir kencang
Menepis surya
Air pun jatuh
Bak ikan
ku menyelam ke dasar
Mencari
ku kerahkan seluruh usahaku
untuk mencari sesuatu
Yang tiada pernah kutemui
Apa ini?
Aku tak tahu
semua berlalu
mengubur sesuatu
Jemu
Akankah semua menjadi?
Apakah?
tidak, terlambat sudah
Untuk disesali
Dia
Pergi
29 Jan
Darah yang Tertuang
Memang tak selamanya
Kita berada di dunia
Hidup dan
Merasakan kehidupan
Semuanya adalah fana
Fana dan tak abadi
Terlampau sulit untuk kita, manusia
Untuk mengubahnya
Semua telah digariskan oleh
Garis takdir semenjak kita
Berbentuk roh
Takdir, oh
Banyak yang percaya akan itu
Dan salah,
Karena mereka tak berikhtiar
Mereka beranggapan semua percuma
Karena sudah ada takdir
Suara mengalun keras
Terulang tiga kali
Terdengar sampai jauh
Sebagai pertanda
Bagai Darah yang Tertuang
31 jan 11
Subscribe to:
Posts (Atom)






